Ps: Maaf kalau ada typo atau sebangsanya.
Kisah Dalam Senja
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan riil sedikit pun. Kisah Dalam Senja sepenuhnya milik penulis.
Mega-mega memantulkan sinar mentari senja yang
mampu membius siapa saja yang memandanginya. Membuat hati siapa saja yang
menatapnya terenyuh. Termasuk gadis dengan seragam sekolahnya.
Ya, dia baru saja pulang dari sekolah setelah menjalankan
aktivitas yang sungguh melampaui kemampuan orang dewasa. Dari pagi-pagi buta
datang demi mengejar materi, ratusan bahkan ribuan kata memaksa untuk masuk ke
dalam pikirannya. Belum lagi tekanan dari segala penjuru arah. Ah, ingin dia
menukar usianya dengan anak-anak tanpa dosa. Bodoh, tidak ada waktu untuk
mengeluh.
Kaki mungilnya terus menendangi kerikil-kerikil
tanpa sasaran, sesekali ia menendangi kaleng minuman ke arah sungai. Dia tidak
peduli jika kaleng tersebut mengenai seseorang yang ada di tepi sungai. Masa
bodoh, yang terpenting dia mampu melepas beban yang begitu berat.
Sesampainya dirumah, segera dia mengganti pakaian
yang beraroma ikan dari tubuhnya dan membersihkan diri. Setelah selesai dengan
segala urusan yang mengikat dia bahkan mampu membuatnya seperti robot, dia
langsung merebahkan diri di kasur kesayangannya.
Mengambil ponsel kesayangannya, matanya menatap
lurus layar dan tangannya asik menggeser kesana-kemari tak jelas. Pikirannya
mulai menguap perlahan, membentuk embun berisi masalah-masalah dan kenangan
buruk yang pernah ia alami.
Pikirannya terbang ke beberapa waktu lalu.
Mendarat mulus di titik awal semua permasalahannya. Awal yang semanis zat kimia
yang berubah menjadi candu yang mampu membuatnya melayang dan berakhir dengan
penderitaan yang begitu menyiksa.
Awalnya, gadis itu adalah gadis yang mampu membaur
dengan orang-orang baru, bahkan orang-orang asing sekalipun tetapi dalam batas
yang wajar. Dia termasuk tipe orang yang disegani sekaligus disayangi,
terkadang tingkah aneh yang sengaja ia buat mampu membuat siapapun tertawa
tanpa beban.
Dia senang melakukan hal tersebut karena ia ingin
diperhatikan─ingin mendapatkan perhatian lebih dari teman-temannya,
sahabat terdekatnya, bahkan dari orang yang dia cintai dalam diam. Tak ada
gunanya juga dia mengungkapkan perasaanya jika Tuhan tidak menghendaki dirinya.
Dia melakukan itu semua karena menyayangi mereka.
Selama setahun
belakangan, dia benar-benar sudah menemukan kehidupan yang dia dambakan.
Mendapat perhatian dari semua orang terdekatnya, menjadi orang yang berguna,
bahkan dia selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukan kalau dia mampu
melakukan apapun seperti orang-orang pinta. Dia sangat senang melihat
orang-orang disekitarnya bahagia karenanya.
Senyum lima jarinya
selalu tersuguh hampir setiap saat, tak menyiratkan ada yang salah dalam
dirinya. Memang benar, dia tidak mendapat masalah atau pun beban yang begitu
berat. Beban-beban berat yang ia terima mampu dia sulap menjadi ringan dengan
ketulusan dari jiwa polos itu.
Namun...
Waktu terus
melangkah, penunjuk waktu milik Tuhan tidak akan pernah berhenti sebelum Tuhan yang
menginginkannya. Maka, semua makhluk hidup akan terus berjalan walau banyak
yang menolak untuk berjalan.
Suatu hari, dia
bersama teman-temannya beraktivitas seperti biasa. Berkumpul membentuk
lingkaran pertemanan yang susah untuk ditembus. Entah alasan apa atau dia yang
belum menyadarinya hingga sekarang, teman-temannya perlahan menjauh darinya.
Perlahan namun pasti.
Semakin lama, dia
semakin tersadar kalau dia hanyalah alat untuk menghibur mereka. Sebagai alat
yang masih mulus dan sangat mudah untuk digunakan. Jika waktunya sudah selesai,
mereka akan mengabaikannya. Membiarkan dia bersama debu-debu dan karat yang
perlahan-lahan mengerak di tubuhnya.
Untuk pertama
kalinya, cairan bening lolos dari
matanya. Bukan hanya setetes, namun sudah menganak-sungai di wajah mulusnya.
Kekecewaan, amarah, kepedihan, penyesalan, dan terselip sedikit kebahagiaan
bersatu padu menjadi emosi. Emosi yang terdominasi gelap.
Saat itu pula,
hatinya tertutup bayang kelam yang begitu pekat. Matanya tertutup rapat untuk
semua yang menyangkut kebahagiaan orang disekitarnya (kecuali orang tuanya).
Dia tidak mau mendengar kata ‘tolong’ atau semacamnya. Tangan dan kakinya tak
mau lagi bergerak dengan ceria. Raut mukanya menunjukkan dia sudah tenggelam
dalam jurang paling curam.
Jiwanya sudah
tersegel emosi. Otaknya sudah terprogam untuk memperdulikan diri sendiri dan
tidak memperdulikan sekitarnya. Hatinya sudah membeku melebihi dinginnya Kutub
Selatan dan Utara.
Tetapi, Tuhan masih
menyayangi gadis itu. Hati nurani terdalamnya masih bersih. Tuhan melindungi
hati nurani gadis itu. Hati nurani yang masih menyisakan cahaya paling terang
yang terdiri dari keikhlasan, ketulusan, kebahagiaan abadi, saling menyayangi, dan
kerendahan hati.
Sinar dari hati
nurani gadis itu perlahan mampu menembus dinding-dinging kegelapan. Perlahan
menghangatkan hati yang mulai mencair, perlahan membuka segel yang menahan jiwa
dari gelap, dan perlahan menghapus progam yang dilindungi sandi ‘tidak
peduli’.
Semuanya membutuhkan
proses dan proges, tidak ada makhluk hidup bahkan manusia yang digadang-gadang
sebagai makhluk hidup paling baik yang sempurna, yang mampu menjadi sempurna
dalam satu kedipan mata.
Senyum yang dulu
terhapus, kembali tergores dengan tipis. Iris indahnya perlahan menampakan
sinar kehidupan yang sesungguhnya, kaki dan tangannya yang gontai sudah kembali
tegap. Namun, luka sayat dalam hatinya belum mampu disembuhkan secara total.
Setidaknya, dia tidak
lagi menjadi badut yang selalu menjadi tukang menghibur orang dengan tingkah
lakunya yang bodoh. Biarkan dia menjadi badut, badut yang selalu tersenyum
walau cercaan datang dari seluruh mata angin. Badut yang selalu menghibur
dengan tulus ikhlas walau dia sangat terluka. Walau dia merasa sendiri dalam
jiwanya. Tidak lagi penuh dengan canda tawa seperti dahulu.
Biarkan gadis itu
menemukan kebanggannya yang telah direnggut, mencari jalannya sendiri untuk
bangkit. Biarkan dia mencari keramaian yang telah menghilang dari jiwanya.
Biarkan dia berkembang menjadi kupu-kupu yang membentangkan sayap indahnya.
Namun kalian─orang-orang
yang disayangi gadis itu harus tau, gadis itu masih sangat rapuh. Jangan
biarkan dia menjalani kehidupan dengan sendirinya. Jika masih peduli,
setidaknya anggap dia masih ada meskipun hanya sebagian kecil, sungguh itu
membuat dia lebih senang daripada tidak dianggap sama sekali.
Setidaknya hargai
peluh yang selalu mengucur dan terus dia hapus karena dia tidak ingin ada yang
mellihat. Hargai air mata yang selalu mengucur deras tanpa hambatan namun
selalu dia basahi dengan air agar tak mampu kalian lihat.
Biarkan senyum indahnya terus mengembang,
karena dia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki perasaan menyayangi
orang-orang di sekitarnya. Jika kalian
masih memiliki hati.
P.s.s: Yang menganggap ini curhat, saya siap melayangkan gunting *ketawa laknat*
Tidak ada komentar :
Posting Komentar