Kamis, 29 Januari 2015

Kisah Dalam Senja

Hai! Sekian lama tidak mempublish atau pun mengintip blog yang sempat kuanggap hina.... Aku kembali dengan coretsebuahcoret orifct pertama yang aku buat. Lebih tepatnya ke deskripsi. Well, daripada banyak celoteh sana-sini, Happy Reading!

Ps: Maaf kalau ada typo atau sebangsanya.





Kisah Dalam Senja

Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan riil sedikit pun. Kisah Dalam Senja sepenuhnya milik penulis.

Mega-mega memantulkan sinar mentari senja yang mampu membius siapa saja yang memandanginya. Membuat hati siapa saja yang menatapnya terenyuh. Termasuk gadis dengan seragam sekolahnya.

Ya, dia baru saja pulang dari sekolah setelah menjalankan aktivitas yang sungguh melampaui kemampuan orang dewasa. Dari pagi-pagi buta datang demi mengejar materi, ratusan bahkan ribuan kata memaksa untuk masuk ke dalam pikirannya. Belum lagi tekanan dari segala penjuru arah. Ah, ingin dia menukar usianya dengan anak-anak tanpa dosa. Bodoh, tidak ada waktu untuk mengeluh.
Kaki mungilnya terus menendangi kerikil-kerikil tanpa sasaran, sesekali ia menendangi kaleng minuman ke arah sungai. Dia tidak peduli jika kaleng tersebut mengenai seseorang yang ada di tepi sungai. Masa bodoh, yang terpenting dia mampu melepas beban yang begitu berat.

Sesampainya dirumah, segera dia mengganti pakaian yang beraroma ikan dari tubuhnya dan membersihkan diri. Setelah selesai dengan segala urusan yang mengikat dia bahkan mampu membuatnya seperti robot, dia langsung merebahkan diri di kasur kesayangannya.
Mengambil ponsel kesayangannya, matanya menatap lurus layar dan tangannya asik menggeser kesana-kemari tak jelas. Pikirannya mulai menguap perlahan, membentuk embun berisi masalah-masalah dan kenangan buruk yang pernah ia alami.

Pikirannya terbang ke beberapa waktu lalu. Mendarat mulus di titik awal semua permasalahannya. Awal yang semanis zat kimia yang berubah menjadi candu yang mampu membuatnya melayang dan berakhir dengan penderitaan yang begitu menyiksa.

Awalnya, gadis itu adalah gadis yang mampu membaur dengan orang-orang baru, bahkan orang-orang asing sekalipun tetapi dalam batas yang wajar. Dia termasuk tipe orang yang disegani sekaligus disayangi, terkadang tingkah aneh yang sengaja ia buat mampu membuat siapapun tertawa tanpa beban.

Dia senang melakukan hal tersebut karena ia ingin diperhatikan─ingin mendapatkan perhatian lebih dari teman-temannya, sahabat terdekatnya, bahkan dari orang yang dia cintai dalam diam. Tak ada gunanya juga dia mengungkapkan perasaanya jika Tuhan tidak menghendaki dirinya. Dia melakukan itu semua karena menyayangi mereka.

Selama setahun belakangan, dia benar-benar sudah menemukan kehidupan yang dia dambakan. Mendapat perhatian dari semua orang terdekatnya, menjadi orang yang berguna, bahkan dia selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukan kalau dia mampu melakukan apapun seperti orang-orang pinta. Dia sangat senang melihat orang-orang disekitarnya bahagia karenanya.
Senyum lima jarinya selalu tersuguh hampir setiap saat, tak menyiratkan ada yang salah dalam dirinya. Memang benar, dia tidak mendapat masalah atau pun beban yang begitu berat. Beban-beban berat yang ia terima mampu dia sulap menjadi ringan dengan ketulusan dari jiwa polos itu.

Namun...

Waktu terus melangkah, penunjuk waktu milik Tuhan tidak akan pernah berhenti sebelum Tuhan yang menginginkannya. Maka, semua makhluk hidup akan terus berjalan walau banyak yang menolak untuk berjalan.

Suatu hari, dia bersama teman-temannya beraktivitas seperti biasa. Berkumpul membentuk lingkaran pertemanan yang susah untuk ditembus. Entah alasan apa atau dia yang belum menyadarinya hingga sekarang, teman-temannya perlahan menjauh darinya. Perlahan namun pasti.

Semakin lama, dia semakin tersadar kalau dia hanyalah alat untuk menghibur mereka. Sebagai alat yang masih mulus dan sangat mudah untuk digunakan. Jika waktunya sudah selesai, mereka akan mengabaikannya. Membiarkan dia bersama debu-debu dan karat yang perlahan-lahan mengerak di tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, cairan bening lolos dari matanya. Bukan hanya setetes, namun sudah menganak-sungai di wajah mulusnya. Kekecewaan, amarah, kepedihan, penyesalan, dan terselip sedikit kebahagiaan bersatu padu menjadi emosi. Emosi yang terdominasi gelap.

Saat itu pula, hatinya tertutup bayang kelam yang begitu pekat. Matanya tertutup rapat untuk semua yang menyangkut kebahagiaan orang disekitarnya (kecuali orang tuanya). Dia tidak mau mendengar kata ‘tolong’ atau semacamnya. Tangan dan kakinya tak mau lagi bergerak dengan ceria. Raut mukanya menunjukkan dia sudah tenggelam dalam jurang paling curam.

Jiwanya sudah tersegel emosi. Otaknya sudah terprogam untuk memperdulikan diri sendiri dan tidak memperdulikan sekitarnya. Hatinya sudah membeku melebihi dinginnya Kutub Selatan dan Utara.
Tetapi, Tuhan masih menyayangi gadis itu. Hati nurani terdalamnya masih bersih. Tuhan melindungi hati nurani gadis itu. Hati nurani yang masih menyisakan cahaya paling terang yang terdiri dari keikhlasan, ketulusan, kebahagiaan abadi, saling menyayangi, dan kerendahan hati.

Sinar dari hati nurani gadis itu perlahan mampu menembus dinding-dinging kegelapan. Perlahan menghangatkan hati yang mulai mencair, perlahan membuka segel yang menahan jiwa dari gelap, dan perlahan menghapus progam yang dilindungi sandi ‘tidak peduli’.

Semuanya membutuhkan proses dan proges, tidak ada makhluk hidup bahkan manusia yang digadang-gadang sebagai makhluk hidup paling baik yang sempurna, yang mampu menjadi sempurna dalam satu kedipan mata.

Senyum yang dulu terhapus, kembali tergores dengan tipis. Iris indahnya perlahan menampakan sinar kehidupan yang sesungguhnya, kaki dan tangannya yang gontai sudah kembali tegap. Namun, luka sayat dalam hatinya belum mampu disembuhkan secara total.

Setidaknya, dia tidak lagi menjadi badut yang selalu menjadi tukang menghibur orang dengan tingkah lakunya yang bodoh. Biarkan dia menjadi badut, badut yang selalu tersenyum walau cercaan datang dari seluruh mata angin. Badut yang selalu menghibur dengan tulus ikhlas walau dia sangat terluka. Walau dia merasa sendiri dalam jiwanya. Tidak lagi penuh dengan canda tawa seperti dahulu.
Biarkan gadis itu menemukan kebanggannya yang telah direnggut, mencari jalannya sendiri untuk bangkit. Biarkan dia mencari keramaian yang telah menghilang dari jiwanya. Biarkan dia berkembang menjadi kupu-kupu yang membentangkan sayap indahnya.

Namun kalian─orang-orang yang disayangi gadis itu harus tau, gadis itu masih sangat rapuh. Jangan biarkan dia menjalani kehidupan dengan sendirinya. Jika masih peduli, setidaknya anggap dia masih ada meskipun hanya sebagian kecil, sungguh itu membuat dia lebih senang daripada tidak dianggap sama sekali.

Setidaknya hargai peluh yang selalu mengucur dan terus dia hapus karena dia tidak ingin ada yang mellihat. Hargai air mata yang selalu mengucur deras tanpa hambatan namun selalu dia basahi dengan air agar tak mampu kalian lihat.


 Biarkan senyum indahnya terus mengembang, karena dia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki perasaan menyayangi orang-orang di sekitarnya. Jika kalian masih memiliki hati.

P.s.s: Yang menganggap ini curhat, saya siap melayangkan gunting *ketawa laknat*

Tidak ada komentar :

Posting Komentar